Yang pengangguran pengen punya kerjaan
Yang kerja kelelahan pengen resign
Sebenernya pada kenapa sih?
Oke, saya mau ngasih saran buat yang pengangguran aja nih.. Pasti pada punya hobi semua kan? Coba di list deh semua hobi yang kamu punya, tulis sebanyak-banyaknya, dan kemudian pilih, kira-kira hobi yang mana yang bisa kamu jadiin bisnis. Saya yakin, pasti ada.
Usaha bisa dimulai dari mana saja. Salah satunya ialah menjadikan hobi sebagai sumber usaha. Ngga perlu terlalu khawatir ketika kamu ditolk di berbagai perusahaan, cukup dijadikan bahan pembelajaran, kemudian segeralah move-on. Mungkin inilah cara Allah menyadarkan kamu bahwa ada lho potensi kamu yang lain yang harus kamu syukuri. Jadi Pengusaha!!! Yap yap.. ga perlu banyak mikir lah.. langsung konkret aja. Learning by doing, learning by sharing.
Hobi merupakan salah satu media pelapasan stres. Hal ini berlaku demikian karena hobi menyangkut suatu kegiatan yang dilakukan seseorang karena merasa suka. Tak ada keterpaksaan di dalamnya. Tak heran jika merintis usaha berdasarkan minat dan hobi sangat disarankan karenanpasti dilakukan dengan rasa cinta, dan sudah tentu kamu sudah baik segala aspek yang terkandung di dalamnya.
Namun, untuk mewujudkannya pun bukan tanpa masalah. Penjiwaan dan penguasaan atas usaha yang dijalankan berpengaruh besar terhadap keberhasilan. Selain itu, diperlukan juga sikap mental yang kuat agar wirausaha tahan banting dan mampu menghadapi berbagai resiko.
So, mau hobi jadi hoki?
Yuk belajar bareng jadi pakarnya di Kampus Bisnis Umar Usman
Konkret Entrepreneur
Tuesday, August 25, 2015
Antara Bisnis yang Sukses dan Jadwal Shalat, Apa Hubungannya?
Sebagian besar dari kita seringkali berpikiran bahwa bisnis adalah urusan bagaimana cara kita bekerja, dan bagaimana cara kita berusaha. Tidak ada hubungannya dengan shalat, tidak ada kaitannya dengan hubungan dengan orangtua, tidak ada keterkaitannya dengan shaleh atau engga. Mungkin ada, tapi rasa-rasanya kurang masuk di akal.
Kali ini saya akan menceritakan sebuah kisah tentang seseorang yang mengalami langsung bagaimana keteraturan shalat bekerja pada kesuksesan bisnis kita. Saran saya kalau masih penasaran, langsung dipraktekkan sendiri. konkret!
Here is the story...
Pada suatu hari di awal-awal saat memulai bisnis dulu, saya ketemu masalah seperti ini: saya janjian dengan 3 orang di Jakarta. Saat itu posisi saya di Jogja tanpa banyak kenalan di Jakarta dan cekak banget dananya. Begini jadualnya: Pak A janji ketemu hari Senin siang, Pak B hari Rabu pagi dan Bu C di hari Jumat sore. Jika saya mau gampang, saya harus berangkat naik kereta Minggu malam dan menginap di Jakarta 5 hari dan pulang Jumat malam. Sayanya yang bingung: nginep dimana, biaya makannya dimana? Duh ribet, padahal janjiannya udah di-arrange lama dan posisi orang yang mau saya temui itu Boss-boss semua untuk penawaran kerjaan promosi. Saya harus mengikuti jadual mereka, saya tak kuasa menentukan jadual karena saya yang butuh.
Pusinglah saya memikirkan jadual yang mustahil itu. Sampai seminggu menjelang harinya, saya ketemu seorang teman,yang ilmu agamanya lumayan. Karena belum menemukan solusi, saya pun curhat padanya. Teman saya mengangguk-angguk lalu bertanya,"Jadual sholatmu gimana?"
"Jadual sholat? Apa hubungannya?" saya keheranan.
"Sholat subuh jam berapa?" tanpa menjawab pertanyaan saya, dia meneruskan pertanyaannya.
" Errr... Jam setengah enam, jam enam. Sebangunnya lah.. Kenapa," jawab saya.
" Sholat dhuhur jam berapa?"
"Dhuhur? Jadual sholat dhuhur ya jam 12 lah..." jawab saya.
"Bukan, jadual sholat dhuhurmu jam berapa?" ia terus mendesak.
" Oooh, jam dua kadang setengah tiga biar langsung Asar. Eh, tapi apa hubungannya dengan masalahku tadi?" saya makin heran.
Temen saya tersenyum dan berkata,"Pantas jadual hidupmu berantakan."
"Lhooo.. kok? Apa hubungannya?" saya tambah bingung.
"Kamu bener mau beresin masalahmu minggu depan ke Jakarta?" tanyanya lagi.
"Lha iya, makanya saya tadi cerita...," saya menyahut.
"Beresin dulu jadual sholat wajibmu. Jangan terlambat sholat, jangan ditunda-tunda, klo bisa jamaah," jawabnya.
"Kok.. hubungannya apa?" saya makin penasaran.
"Kerjain aja dulu kalo mau. Enggak juga gak papa, yang punya masalah kan bukan aku...," jawabnya.
Saya pun pamit, jawabannya tak memuaskan hati saya. Joko sembung naik ojek, pikir saya. Gak nyambung, Jek. Saya pun mencari cara lain sambil mengumpulkan uang saku buat berangkat yang emang mepet. Tapi sehari itu rasanya buntu, buntu banget. Sampai saya berfikir, ok deh saya coba sarannya. Toh gak ada resiko apa-apa. Tapi ternyata beratnya minta ampun, sholat tepat waktu berat jika kita terbiasa malas-malasan, mengakhirkan pelaksanaannya. Tapi udahlah, tinggal enam hari ini.
Dua hari berjalan, tak terjadi apa-apa. Makin yakin saya bahwa saran teman saya itu tidak berguna. Tapi pada hari ketiga, hp berdering. Dari asisten Pak A,"Mas, mohon maaf sebelumnya. Tapi Pak A belum bisa ketemu hari Senin besok,. Ada rapat mendadak dengan direksi. Saya belum tahu kapan bisa ketemunya, nanti saya kabari lagi."
Di ujung telepon saya ternganga, bukannya jadual saya makin teratur ini malah ada kemungkinan di-cancel. Makin jauh logika saya menemukan solusinya, tapi apa daya. Karena bingung, saya pun terus melanjutkan sholat saya sesuai jadualnya.
Di hari berikutnya, hp saya berdering kembali. Dari sekretaris Pak B,"Mas, semoga belum beli tiket ya? Pak B ternyata ada hjadual general check up Rabu depan jadinya gak bisa ketemu. Tadi Bapak nanya bisa nggak ketemu Jumat aja, jamnya ngikut Mas."
Yang ini saya bener-bener terkejut. Jumat? Kan bareng harinya ama Bu C? Saya pun menyahut,"O iya, tidak apa-apa Pak. Jumat pagi gitu, jam 9 bisa ya?"
Dari seberang sana dia menjawab,"OK Mas, nanti saya sampaikan."
Syeep, batin saya berteriak senang. Belum hilang rasa kaget saya, hp saya berbunyi lagi. Sebuah sms masuk, bunyinya: Mas, Pak A minta ketemuannya hari Jumat setelah Jumatan. Jam 13.30. Diusahakan ya Mas, tidak lama kok. 1 jam cukup.
Saya makin heran! Tanpa campur tangan saya sama sekali, itu jadual menyusun dirinya sendiri. Jadilah saya berangkat Kamis malam, ketemu 3 orang di hari Jumat dan Jumat malem bisa balik ke Jogja tanpa menginap!
Saya sujud sesujud-sujudnya. Keajaiban model begini takkan bisa didapatkan dari Seven Habits-nya Stephen Covey, tidak juga dari Eight Habbits. Hanya Allah yang kuasa mengatur segala sesuatu dari arsy-Nya sana.
Sampai saya meyakin satu hal yang sampai sekarang saya usahakan terus jalani: Dahulukan jadual waktumu untuk Tuhan maka Tuhan akan mengatur jadual hidupmu sebaik-baiknya.
Karena saya muslim, saya coba konfirmasikan ini ke beberapa teman non muslim dan mereka menyetujuinya. Jika dalam hidup ini kita mengutamakan Tuhan, maka Tuhan akan menjaga betul hidup kita. Tuhan itu mengikuti perlakuan kita kepadanya, makin disiplin kita menyambut-Nya, makin bereslah jadual hidup kita.
Jadi, kunci sukses bisnis ke-3 yang saya bisa share ke teman-teman: Sholatlah tepat waktu, usahakan jamaah. Jika mau lebih top, tambahin sholat sunnahnya: qobliyah, bakdiyah, tahajjud, dhuha, semampunya.
Silakan dipraktekkan, Insya Allah jadual kehidupan kita (baik bisnis, keluarga maupun personal) akan nyaman dijalani. Sampai hari ini, saya belum pernah berdoa lagi untuk menambah 24 jam sehari menjadi lebih banyak jamnya. 24 jam sehari itu sudah cukup, jika kita tak hanya mengandalkan logika untuk mengaturnya. Tak kemrungsung, tak buru-buru tapi tanggung jawab terjalani dengan baik.
Jika suatu hari saya menemukan jadual saya kembali berantakan, banyak tabrakan waktunya atau tidak jelas karena menunggu konfirmasi terlalu lama: segera saya cek jadual sholat saya. Pasti disitulah masalahnya dan saya harus segera beresin sehingga jadual saya akan teratur lagi sebaik-baiknya. Seperti teman-teman sekalian, istiqomah alias konsisten menjalankan ini tentu banyak godaannya. Tapi kalo gak pake godaan, pasti semua orang akan sukses dong. Jadi emang mesti tough, kuat menjalaninya, jangan malas, jangan cengeng.
Belajar konkret di Kampus Bisnis Umar Usman
Kali ini saya akan menceritakan sebuah kisah tentang seseorang yang mengalami langsung bagaimana keteraturan shalat bekerja pada kesuksesan bisnis kita. Saran saya kalau masih penasaran, langsung dipraktekkan sendiri. konkret!
Here is the story...
Pada suatu hari di awal-awal saat memulai bisnis dulu, saya ketemu masalah seperti ini: saya janjian dengan 3 orang di Jakarta. Saat itu posisi saya di Jogja tanpa banyak kenalan di Jakarta dan cekak banget dananya. Begini jadualnya: Pak A janji ketemu hari Senin siang, Pak B hari Rabu pagi dan Bu C di hari Jumat sore. Jika saya mau gampang, saya harus berangkat naik kereta Minggu malam dan menginap di Jakarta 5 hari dan pulang Jumat malam. Sayanya yang bingung: nginep dimana, biaya makannya dimana? Duh ribet, padahal janjiannya udah di-arrange lama dan posisi orang yang mau saya temui itu Boss-boss semua untuk penawaran kerjaan promosi. Saya harus mengikuti jadual mereka, saya tak kuasa menentukan jadual karena saya yang butuh.
Pusinglah saya memikirkan jadual yang mustahil itu. Sampai seminggu menjelang harinya, saya ketemu seorang teman,yang ilmu agamanya lumayan. Karena belum menemukan solusi, saya pun curhat padanya. Teman saya mengangguk-angguk lalu bertanya,"Jadual sholatmu gimana?"
"Jadual sholat? Apa hubungannya?" saya keheranan.
"Sholat subuh jam berapa?" tanpa menjawab pertanyaan saya, dia meneruskan pertanyaannya.
" Errr... Jam setengah enam, jam enam. Sebangunnya lah.. Kenapa," jawab saya.
" Sholat dhuhur jam berapa?"
"Dhuhur? Jadual sholat dhuhur ya jam 12 lah..." jawab saya.
"Bukan, jadual sholat dhuhurmu jam berapa?" ia terus mendesak.
" Oooh, jam dua kadang setengah tiga biar langsung Asar. Eh, tapi apa hubungannya dengan masalahku tadi?" saya makin heran.
Temen saya tersenyum dan berkata,"Pantas jadual hidupmu berantakan."
"Lhooo.. kok? Apa hubungannya?" saya tambah bingung.
"Kamu bener mau beresin masalahmu minggu depan ke Jakarta?" tanyanya lagi.
"Lha iya, makanya saya tadi cerita...," saya menyahut.
"Beresin dulu jadual sholat wajibmu. Jangan terlambat sholat, jangan ditunda-tunda, klo bisa jamaah," jawabnya.
"Kok.. hubungannya apa?" saya makin penasaran.
"Kerjain aja dulu kalo mau. Enggak juga gak papa, yang punya masalah kan bukan aku...," jawabnya.
Saya pun pamit, jawabannya tak memuaskan hati saya. Joko sembung naik ojek, pikir saya. Gak nyambung, Jek. Saya pun mencari cara lain sambil mengumpulkan uang saku buat berangkat yang emang mepet. Tapi sehari itu rasanya buntu, buntu banget. Sampai saya berfikir, ok deh saya coba sarannya. Toh gak ada resiko apa-apa. Tapi ternyata beratnya minta ampun, sholat tepat waktu berat jika kita terbiasa malas-malasan, mengakhirkan pelaksanaannya. Tapi udahlah, tinggal enam hari ini.
Dua hari berjalan, tak terjadi apa-apa. Makin yakin saya bahwa saran teman saya itu tidak berguna. Tapi pada hari ketiga, hp berdering. Dari asisten Pak A,"Mas, mohon maaf sebelumnya. Tapi Pak A belum bisa ketemu hari Senin besok,. Ada rapat mendadak dengan direksi. Saya belum tahu kapan bisa ketemunya, nanti saya kabari lagi."
Di ujung telepon saya ternganga, bukannya jadual saya makin teratur ini malah ada kemungkinan di-cancel. Makin jauh logika saya menemukan solusinya, tapi apa daya. Karena bingung, saya pun terus melanjutkan sholat saya sesuai jadualnya.
Di hari berikutnya, hp saya berdering kembali. Dari sekretaris Pak B,"Mas, semoga belum beli tiket ya? Pak B ternyata ada hjadual general check up Rabu depan jadinya gak bisa ketemu. Tadi Bapak nanya bisa nggak ketemu Jumat aja, jamnya ngikut Mas."
Yang ini saya bener-bener terkejut. Jumat? Kan bareng harinya ama Bu C? Saya pun menyahut,"O iya, tidak apa-apa Pak. Jumat pagi gitu, jam 9 bisa ya?"
Dari seberang sana dia menjawab,"OK Mas, nanti saya sampaikan."
Syeep, batin saya berteriak senang. Belum hilang rasa kaget saya, hp saya berbunyi lagi. Sebuah sms masuk, bunyinya: Mas, Pak A minta ketemuannya hari Jumat setelah Jumatan. Jam 13.30. Diusahakan ya Mas, tidak lama kok. 1 jam cukup.
Saya makin heran! Tanpa campur tangan saya sama sekali, itu jadual menyusun dirinya sendiri. Jadilah saya berangkat Kamis malam, ketemu 3 orang di hari Jumat dan Jumat malem bisa balik ke Jogja tanpa menginap!
Saya sujud sesujud-sujudnya. Keajaiban model begini takkan bisa didapatkan dari Seven Habits-nya Stephen Covey, tidak juga dari Eight Habbits. Hanya Allah yang kuasa mengatur segala sesuatu dari arsy-Nya sana.
Sampai saya meyakin satu hal yang sampai sekarang saya usahakan terus jalani: Dahulukan jadual waktumu untuk Tuhan maka Tuhan akan mengatur jadual hidupmu sebaik-baiknya.
Karena saya muslim, saya coba konfirmasikan ini ke beberapa teman non muslim dan mereka menyetujuinya. Jika dalam hidup ini kita mengutamakan Tuhan, maka Tuhan akan menjaga betul hidup kita. Tuhan itu mengikuti perlakuan kita kepadanya, makin disiplin kita menyambut-Nya, makin bereslah jadual hidup kita.
Jadi, kunci sukses bisnis ke-3 yang saya bisa share ke teman-teman: Sholatlah tepat waktu, usahakan jamaah. Jika mau lebih top, tambahin sholat sunnahnya: qobliyah, bakdiyah, tahajjud, dhuha, semampunya.
Silakan dipraktekkan, Insya Allah jadual kehidupan kita (baik bisnis, keluarga maupun personal) akan nyaman dijalani. Sampai hari ini, saya belum pernah berdoa lagi untuk menambah 24 jam sehari menjadi lebih banyak jamnya. 24 jam sehari itu sudah cukup, jika kita tak hanya mengandalkan logika untuk mengaturnya. Tak kemrungsung, tak buru-buru tapi tanggung jawab terjalani dengan baik.
Jika suatu hari saya menemukan jadual saya kembali berantakan, banyak tabrakan waktunya atau tidak jelas karena menunggu konfirmasi terlalu lama: segera saya cek jadual sholat saya. Pasti disitulah masalahnya dan saya harus segera beresin sehingga jadual saya akan teratur lagi sebaik-baiknya. Seperti teman-teman sekalian, istiqomah alias konsisten menjalankan ini tentu banyak godaannya. Tapi kalo gak pake godaan, pasti semua orang akan sukses dong. Jadi emang mesti tough, kuat menjalaninya, jangan malas, jangan cengeng.
Belajar konkret di Kampus Bisnis Umar Usman
Membangun Team yang Solid dan Konkret
Dalam membangun sebuah bisnis, membentuk dan menjaga team work yang solid sangatlah penting. Karena maju tidaknya sebuah bisnis sangat dipengaruhi oleh team work alias bagaimana tim bisnis kita bisa bekerja sama.
Semakin solid team yang mendukung sebuah bisnis, maka akan semakin besar pula peluang sukses yang dimiliki bisnis tersebut. Untuk menciptakan team work yang solid memang tidak mudah, dan pastinya butuh waktu. Nah, bagaimana membangun teamwork yang solid agar bisnis kita semakin konkret?
- Pilih anggota tim yangberkualitas
Dari mulai team leader yang harus memiliki jiwa kepemimpinan yang bagus, tim manajemen yang memiliki ide dan pandangan bisnis luas, sampai tim pelaksana yang memiliki keahlian dan pengetahuan di bidang bisnis yang Anda jalankan. Dengan demikian, semua anggota tim bisa saling mendukung dan berjalan bersama menuju cita-cita yang telah diimpikan. - Satukan tujuan yang ingin dicapai
Pastikan seluruh anggota tim mengetahui tujuan yang sebenarnya ingin dicapai tim tersebut. Jadi, seluruh individu yang terlibat di dalamnya merasa memiliki satu tujuan yang sama, dan seluruhnya memiliki tanggungjawab sama besar untuk mencapai tujuan mereka. Cara tersebut juga akan memotivasi para anggota untuk saling berkoordinasi dan menjalankan peran masing-masing, sampai tujuan yang ingin dicapai. - Tumbuhkan kebersamaan dan kepercayaan dalam tim
Usahakan untuk saling berbagi kepada rekan satu tim dalam keadaan senang maupun duka, serta tumbuhkan rasa saling percaya dan rasa kebersamaan untuk saling peduli dan bekerjasama demi terwujudnya tujuan bersama. - Lakukan perbaikan atau evaluasi secara berkala
Kegiatan ini perlu dilakukan untuk mengetahui kinerja tim, kemampuan sebuah tim, serta keberhasilankeberhasilan yang telah dicapai oleh
tim tersebut. Dengan demikian kualitas sebuah tim akan semakin berkembang dengan adanya perbaikan dan evaluasi secara berkala.
Di Kampus Umar Usman, selama enam bulan pertama kita akan belajar bersama bagaimana membangun team work bisnis yang solid. Penasaran? Cek www.kampusumarusman.com
Menjemput Rezeki dengan Akhlak ((MQ d’MKR #2))
Menjemput rezeki dengan akhlak, gimana caranya?
Mungkin itu
pertanyaan yang hampir semua orang tanyakan saat membaca judul tulisan ini. Begitupun
dengan saya, saat Aa Gym mengatakan demikian di acara MQ d’MKR alias Manajemen
Qalbu dalam Menjemput Keajaiban Rezeki. Luar biasa, ternyata dalam berbisnis,
dalam bekerja, dalam setiap aktivitas yang kita lakukan dalam rangka menjemput
rezeki, yang kita butuhkan selain manajemen waktu, manajemen keuangan,
diperlukan juga yang namanya manajemen qalbu berupa akhlak.
Penasaran? Lanjut..
Pernah tau Rasulullah Muhammad diutus ke dunia untuk apa?
Untuk menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan, benar. Sebagai
rahmatan lil ‘alamin, iya. Ada satu
tujuan khusus yang beliau sampaikan secara langsung dalam sabdanya,
“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk
menyempurnakan akhlak yang mulia”
(HR.Bukhari)
Kalau kata Imam Al-Ghazali,
akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan dengan
mudah dan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Dalam definisi lain,
akhlak juga diartikan sebagai budi pekerti. Dan Rasulullah diutus hanyalah
untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Kesempurnaan akhlak yang dimaksud
itu yang kayak gimana?
Ternyata, akhlak yang sempurna
ialah akhlak yang bernilai tauhid. Orang yang dermawan, ramah, murah senyum,
pemaaf, rajin, suka memberi, suka menolong, mereka semua memiliki akhlak yang
mulia. Akan tetapi, belum sempurna akhlaknya jika tidak terdapat tauhid dalam
kemuliaan akhlaknya. Poinnya, berakhlak yang mulia dan hanya karena Allah.
Akhirnya kita pun menyadari bahwa
diutusnya Rasulullah bukan untuk mencerdaskan bangsa, bukan untuk menyelamatkan
manusia, bukan juga untuk menyejahterakan ummat. Tapi lebih dari itu semua,
Rasulullah diutus dengan membawa kuncinya yakni tauhiid. Nilai tauhid yang
menjejak di bumilah yang akan mencerdaskan bangsa, menyelamatkan manusia, dan
menyejahterakan ummat.
Maka mulai hari ini,
berlomba-lombalah menjadi orang yang berakhlak mulia dan sempurnakan dengan
tauhid. Di negeri kita ini, yang mengerjakan shalat banyak, yang haji banyak,
yang umroh juga banyak. Yang bercita-cita jadi dokter banyak, jadi pilot
banyak, jadi pejabat banyak, tapi yang bercita-cita jadi orang yang berakhlak
karimah ngga ada. Ada mungkin, tapi sedikit.
Sebagian besar orang Indonesia
menempuh pendidikan SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, tapi sudah seusia itu
masih aja buang sampah sembarangan. Padahal itu adalah poin belajar bertanggung
jawab, betul? Jadi 12 tahun sekolah belajar apa? Akhlaknya kemana?
Kalau begini, kita jadi harus
banyak istighfar, apalagi kalau ternyata kita masih jadi bagian dari mereka
yang belum bisa bertanggungjawab meski setidaknya sudah 12 tahun bersekolah.
Masih buang sampah sembarangan? Masih nyontek pas ujian? #malu-weii
#plakplakplak
Baik, jadi Rasulullah diutus
untuk menyempurnakan akhlak, syariat ditegakkan untuk memperbaiki akhlak, dan
akhlak lah yang membuat berkah rezeki.
Terus, menjemput rezeki pake
akhlak itu di bagian mananya?
Betul kita harus bekerja,
berusaha, dan bersungguh-sungguh dalam ikhtiar menjemput rezeki, dan akhlak lah
yang akan menentukan kita untuk memilih yang halal atau yang haram.
Carilah rezeki dengan akhlak,
maka Allah yang akan menunjukkan caranya, jalannya, dan turunnya dari arah yang
tidak disangka-sangka.
Di Kampus Umar Usman, kita akan belajar bagaimana caranya menjemput rezeki dengan akhlak. Mau tau atau mau tau banget? cek www.kampusumarusman.com
Di Kampus Umar Usman, kita akan belajar bagaimana caranya menjemput rezeki dengan akhlak. Mau tau atau mau tau banget? cek www.kampusumarusman.com
Sunday, August 23, 2015
Manajemen Qalbu dalam Menjemput Keajaiban Rezeki #part1
Seringkali, semakin berumur semakin banyak yang kita pikirkan. Harapan kita makin banyak, keinginan kita makin banyak, ambisi juga demikian. Tidak salah sih, tapi juga belum tentu benar. Karena kadang-kadang atau sering tanpa disadari kita juga ikut pusing memikirkan hal-hal yang sebenarnya ga penting buat dipikirin. Pusingnya dapet, tapi hasilnya ga ada. Nah itu yang bikin hidup kita jadi ruwet, rumit, ribet, dan ga pernah nemu titik bahagia.
Buat kamu yang lagi galau, sedih, susah, ga ada semangat hidup, dan pengen bahagia hidupnya, saya pengen share sesuatu yang saya dapet dari berguru di acaranya Aa Gym dan Mas Ippho kemarin (22/08/2015).
Eits, buat kamu yang lagi seneng juga ga salah kok buat baca. Insya Allah bermanfaat :)
Pertama, simpan dulu semua harapan, ingin, ambisi, impian, cita-cita, dan semua hal yang kita pikirkan. Jangan dibuang ya, disimpan.
Oke, mari kita buat hidup ini jadi lebih simple. Cukup pikirkan “Gimana caranya disukai Allah, dan gimana caranya biar kita layak ditolong oleh Allah”. Sederhana.
Ada sebuah ayat yang bagi saya menjadi kunci pembuka jalan keluar untuk semua permasalahan.
“...Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (QS. At-Thalaq:2-3)
Jelas. Siapa yang taqwa, dialah yang akan diberi jalan keluar, bahkan diberi rezeki dari arah yang tak terduga. Bagi seorang Ibu Rumah Tangga misalnya, bisa jadi dia bekerja berlelah-lelah di rumah sebagai bentuk ketaqwaannya. Kemudian Allah menitipkan rezekinya lewat suaminya, anak-anaknya, atau dari jalan manapun yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Yakinlah, tidak ada yang mustahil bagi Allah, dan janji Allah itu pasti benar.
Kalau masalah kita itu tentang rezeki berupa uang, hmm ngerasa kurang uang misalnya. Meskipun bisa jadi yang kelebihan uang juga ngerasa itu masalah buat dia. Sebenernya kita ga perlu banyak uang kok. Yang penting cukup dan pas-pasan aja.
Pas mau makan cukup, pas mau beli rumah cukup, pas mau nyekolahin anak cukup, pas mau bayarin ongkos haji orangtua cukup, pas mau jalan-jalan ke luar negeri cukup, pas mau bikin rumah tahfidz cukup, pokoknya serba cukup dan pas-pasan. (senyum)
Kabar baiknya, cukup itu ternyata bukan karena pinter, kaya, cantik atau ganteng. Karena dari ayat di atas, kemudian Allah melanjutkan,
“Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
Satu kunci lagi setelah taqwa, tawakkal. PR-nya, silakan maknai kembali bagaimana itu taqwa, bagaimana itu tawakkal.
Rezeki yang cukup itu jauh lebih membahagiakan daripada rezeki yang berlebihan. Ngga percaya? Kalau kita punya sepatu 100 pasang, tapi yang cukup buat ukuran kaki kita cuma 1, yang dipake yang mana? Anak SD juga tau jawabannya ya..
Kita sepakat bahwa Allah lebih tau kebutuhan kita, terus kenapa kita lebih sibuk dari urusan selain Allah?
Berbicara tentang masalah atau ujian, sebenarnya tidak ada ujian yang membahayakan. Yang ada ialah ketika ujian datang, kita yang salah menyikapinya.
Ada orang menghina kita, terus kita marah-marah, jengkel, kesel, sebel, eh anak istri/suami kita juga kena marahnya. Yang menghina kita dosa, kita yang dihina juga dosa. Rugi atau rugi banget?
Anak tidak lulus ujian di sekolahnya bukan karena permasalahan hidup. Dia tidak lulus karena jawaban ujiannya yang salah. Artinya setiap kejadian yang kita alami, semuanya tergantung dari bagaimana cara kita menyikapinya. Kalau dapet nikmat ya bersyukur, insya Allah berpahala. Kalau dapet nikmat yang agak lain ya bersabar, itu juga insya Allah berpahala. Setuju yaa.. :)
So, konsep rezeki udah kita dapet nih ya..
Taqwa --> Jalan keluar+Rezeki yg tidak disangka-sangka --> Tawakkal --> Berkecukupan
Dekat dengan Allah, nanti Allah yang akan memberi jalan keluar.
Nah.. ini sebenernya baru kulitnya dari acara kemarin. Mau isinya? Sabar ya.. insya Allah nanti saya share.. ;)
Saya mau berterimakasih dulu buat Kampus Umar Usman yang ngasih saya kesempatan buat ikut acara ini. Saya rekomendasiin banget nih buat temen2, kakak2, ibu2, bapak2, yang mau belajar sambil bisnis, kuliah satu tahun jadi pengusaha di Kampus ini. Insya Allah selain ilmu kaya nya dapet, ilmu taqwa nya juga dapet. 30% teori 70% praktek :)
Monggo cek
Fb: Kampus Umar Usman
Twitter: UmarUsmanID
Thursday, August 6, 2015
Tiga Prinsip Belajar di Umar Usman
Mengutip dari perkataan ayahanda kami tercinta, Bapak Parni
Hadi selaku Rektor Kampus Umar Usman, ada tiga prinsip utama dalam pembelajaran
di Umar Usman yang harus diterapkan. Apa sajakah itu?
Pertama,
learning by doing alias belajar sambil melakukan. Dengan menerapkan sistem
belajar 70% praktek dan 30% teori, mahasiswa Umar Usman dituntut untuk
mempraktekkan secara langsung rencana bisnis yang mereka buat dan meminimalisir
kemungkinan kegagalan dari ilmu yang mereka dapat melalui para pakar bisnis dan
mentor yang berpengalaman. Melalui cara ini, mereka akan lebih memahami teori
yang mereka dapatkan dan mengevaluasi bisnis yang mereka pilih di lapangan.
Yang
kedua ialah learning by sharing alias belajar sambil berbagi. Agar ilmu yang
didapat semakin berkah, mahasiswa Umar Usman dituntut belajar tidak hanya untuk
diri sendiri, tapi juga berbagi dengan orang lain. Karena dengan berbagi,
justru ilmu akan bertambah dan lebih berkah insya Allah.
Yang
ketiga adalah learning by serving yakni belajar sambil melayani. Ilmu yang
dipelajari bukan untuk dipendam sendiri. Ibarat air, air yang diam dan tenang
di tempat justru yang akan dihinggapi jentik-jentik nyamuk. Air bermanfaat ialah
air yang mengalir, mengairi sawah-sawah, dijadikan sistem irigasi, sehingga
manfaatnya dapat dirasakan banyak orang. Begitupun dengan ilmu, ilmu yang
bermanfaat adalah ilmu yang mengalir, yang diterapkan, dan emberikan manfaat
bagi masyarakat sekitar.
Ketiga prinsip inilah yang harus selalu diterapkan selama
pembelajaran di Umar Usman yang kemudian diteruskan di dalam kehidupan
selanjutnya.
Family Campus
Subscribe to:
Comments (Atom)


